Rabu, 24 Oktober 2018

RESUME SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI ( BAB 10 - BAB 12 )

TUGAS RESUME BAB 10, BAB 11, DAN BAB 12
SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI

 Hasil gambar untuk gunadarma

NAMA : Choirul Kahfi
NPM : 11115478
KELAS : 4KA23
TUGAS : RESUME BAB 10, BAB 11, BAB 12
DOSEN : KURNIAWAN B. PRIANTO, S.Kom., SH, MM
MATA KULIAH : SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
S1 - SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018



Berikut saya lampirkan tugas tersebut dengan link :

https://drive.google.com/open?id=1vts4XSbzg4E87UJeggrxu9tnmdHxwOM-

Kamis, 18 Oktober 2018

RESUME SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI ( BAB 7 - BAB 9 )

TUGAS RESUME BAB 7, BAB 8, DAN BAB 9
SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI

 Hasil gambar untuk gunadarma

NAMA : Choirul Kahfi
NPM : 11115478
KELAS : 4KA23
TUGAS : RESUME BAB 7, BAB 8, BAB 9
DOSEN : KURNIAWAN B. PRIANTO, S.Kom., SH, MM
MATA KULIAH : SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
S1 - SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018



Berikut saya lampirkan tugas tersebut dengan link :

Audit Teknologi Sistem Informasi (Tugas 1 Kelompok & Individu)

TUGAS KELOMPOK :

https://drive.google.com/open?id=1Xz2rKLigi4dKrgbPp_WbxGGZKPV4I5kc

TUGAS INDIVIDU :


Standar dan Panduan Audit Sistem Informasi 

Panduan yang dipergunakan dalam Audit Sistem Informasi di Indonesia adalah Standar Atestasi, dan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntansi (IAI di Indonesia, AICPA di USA, atau CICA untuk Kanada), maupun yang lebih khusus lagi, yaitu dari ISACA atau IIA. Model referensi sistem pengendalian intern (internal controls model/framework) lazimnya adalah COBIT. Audit objectives dalam audit terhadap IT governance (menurut COBIT adalah: effectiveness, confidentiality, data integrity, availability, efficiency, dan realibility). Karena yang diperiksa adalah tata-kelola Teknologi Informasi (IT governance), maka yang diperiksa antara lain adalah Teknologi Informasi itu sendiri. Karena itu istilah audit arround the computer dan audit through the computer tidak relevan lagi di sini.

Dalam pelaksanaannya, jenis audit ini berkembang dalam beberapa variannya:
1. Pemeriksaan Operasional (Operational Audit) terhadap pengelolaan sistem informasinya, atau lebih tepatnya terhadap tata-kelola Teknologi Informasi (IT governance).
2. General Information review, Audit terhadap Sistem Informasi secara umum pada suatu organisasi tertentu.
3. Audit terhadap aplikasi tertentu yang sedang dikembangkan (Quality Assurance pada tahap system development), Quality Assurance pada systems development.

Di dalam audit ini, auditor bukan anggota dari tim pengembangan sistem, tetapi membantu tim untuk meningkatkan kualitas dari sistem yang mereka rancang dan implementasikan. Auditor mewakili pimpinan proyek dan menejemen perusahaan untuk memonitor kegiatan tim.

· Postimplementation audit: Audit terhadap aplikasi tertentu yang sudah dioperasikan (postimplementation audit yang bersifat application software review).
· Audit e-business atau e-commerce, di USA ikatan akuntan publiknya (AICPA) menawarkan jasa webtrust, bahkan juga systrust.

Audit juga dapat dilaksanakan untuk jenis lingkup penugasan tertentu, misalnya:
·Telaah lingkungan Teknologi Informasi, termasuk aspek-aspek fisik dan infrastruktur (Physical and environmental review).
· Telaah proses bisnis dan seberapa jauh Teknologi Informasi mendukungnya (Business continuity review).
·Telaah kepemilikan Teknologi Informasi, apakah sewa/leasing, dimiliki oleh perusahaan sepenuhnya, atau dimiliki perusahaan outsourcing.
· Telaah sistem jaringan dan keamanan (Network security review).
· Telaah integritas data pada Sistem Informasi (Data integrity review).
· Telaah administrasi sistem, meliputi: keamanan sistem operasi, manajemen database, prosedur dan ketaatan administrasi secara keseluruhan (System administration review).

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian audit Sistem Informasi dapat dikelompokkan dalam dua tipe, yaitu: Audit Sistem Informasi akuntansi berbasis Teknologi Informasi yang merupakan bagian dari kegiatan audit laporan keuangan (general financial audit). Pemeriksaan dilakukan terhadap Sistem Akuntansi berbasis komputer. Di pihak lain Audit Sistem Informasi juga dapat dikategorikan sebagai jenis audit operasional, khususnya kalau pemeriksaan yang dilakukan adalah dalam rangka penilaian terhadap kinerja unit fungsional atau fungsi Sistem Informasi (pusat/instalasi komputer), atau untuk mengevaluasi sistem-sistem aplikasi yang telah diimplementasikan pada suatu organisasi/perusahaan (general information systems review), untuk memeriksa keterandalan sistem-sistem aplikasi komputer tertentu yang sedang dikembangkan (system development) maupun yang sudah dioperasikan (postimplementation audit).

Standar Audit

Standar Audit SI tidak lepas dari standar professional seorang auditor SI. Standar professional adalah ukuran mutu pelaksanaan kegiatan profesi yang menjadi pedoman bagi para anggota profesi dalam menjalankan tanggungjawab profesinya. Standar profesional adalah batasan kemampuan (knowledge, technical skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang aturan-aturannya dibuat oleh organisasi profesi yang bersangkutan. Beberapa standar audit SI yang biasa digunakan adalahs ebagai berikut:
·         ISACA : IT Standards, Guidelines, and Tools and Techniques for Audit and Assurance and Control Professionals
·         IIA : International Professional Practices Framework / IPPF
·         IASII : Standar Audit Sistem Informasi
·         BI : Standar Pelaksanaan Fungsi Audit Intern Bank / SPFAIB
·         BPPT : Framework, Kode Etik & Standar, Pedoman Umum Audit Teknologi

 1. ISACA


ISACA adalah suatu organisasi profesi internasional di bidang tata kelola teknologi informasi yang didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1967. Awalnya dikenal dengan nama lengkap Information Systems Audit and Control Association, saat ini ISACA hanya menggunakan akronimnya untuk merefleksikan cakupan luasnya di bidang tata kelola teknologi informasi.
ISACA didirikan oleh individu yang mengenali kebutuhan untuk sumber informasi terpusat dan bimbingan dalam bidang tumbuh kontrol audit untuk sistem komputer. Hari ini, ISACA memiliki lebih dari 115.000 konstituen di seluruh dunia dan telah memiliki kurang lebih 70.000 anggota yang tersebar di 140 negara. Anggota ISACA terdiri dari antara lain auditor sistem informasi, konsultan, pengajar, profesional keamanan sistem informasi, pembuat perundangan, CIO, serta auditor internal. Jaringan ISACA terdiri dari sekitar 170 cabang yang berada di lebih dari 60 negara, termasuk di Indonesia.
• Sifat khusus audit sistem informasi, keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan audit SI memerlukan standar yang berlaku secara global
• ISACA berperan untuk memberikan informasi untuk mendukung kebutuhan pengetahuan
• Dalam famework ISACA terkait, audit sistem informasi terdapat Standards, Guidelines and procedures
• Standar yang ditetapkan oleh ISACA harus diikuti oleh auditor.
• Guidelines memberikan bantuan tentang bagaimana auditor dapat menerapkan standar dalam berbagai penugasan audit.
• Prosedur memberikan contoh langkah-langkah auditor dapat mengikuti penugasan audit tertentu sehingga dapat menerapkan standar.
• Namun, IS auditor harus menggunakan pertimbangan profesional ketika menggunakan pedoman dan prosedur.

2. COSO

The Comitte of Sponsoring Organizations of the treadway commission’s (COSO) dibentuk pada tahun 1985 sebagai alinasi dari 5 (lima) organisasi professional. Organisasi tersebut terdiri dari American Accounting Association, American Instititue of Certified Public Accountants, Financial Executives International, Instititute of Management Accountants, dan The Institute of Internal Auditors. Koalisi ini didirikan untuk menyatukan pandangan dalam komunitas bisnis berkaitan dengan isu-isu seputar pelaporan keuangan yang mengandung fraud.
Secara garis besar, COSO menghadirkan suatu kerangka kerja yang integral terkait dengan definisi pengendalian intern, komponen-komponennya, dan kriteria pengendalian intern yang dapat dievaluasi. Pengendalian internal terdiri dari 5 komponen yang saling berhubungan. Komponen-komponen tersebut memberikan kerangka kerja yang efektif untuk menjelaskan dan menganalisa sistem pengendalian internal yang diimplementasikan dalam suatu organisasi. Komponen-komponen tersebut, adalah sebagai berikut:
1. Lingkungan pengendalian
2. Penilaian resiko
3. Aktifitas pengendalian
4. Informasi dan komunikasi
5. Pemantauan


3. ISO 1799

Menghadirkan sebuah standar untuk sistem manajemen keamanan informasi yang meliputi dokumen kebijakan keamanan informasi, alokasi keamanan informasi tanggung jawab menyediakan semua pemakai dengan pendidikan dan pelatihan di dalam keamanan informasi, mengembangkan suatu sistem untuk laporan peristiwa keamanan, memperkenalkan virus kendali, mengembangkan suatu rencana kesinambungan bisnis, mengikuti kebutuhan untuk pelindungan data, dan menetapkan prosedur untuk mentaati kebijakan keamanan.


DAFTAR PUSTAKA : 

herunugroho.staff.telkomuniversity.ac.id/files/2016/08/Standar-Audit-SI.pptx
https://ccaccounting.wordpress.com/2013/10/21/jenis-jenis-audit/
https://excitedblog.wordpress.com/2017/11/01/standar-dan-panduan-untuk-audit-sistem-informasi/
http://bayutry.blogspot.com/2017/10/standar-dan-panduan-audit-sistem.html
http://dwifarhanug.blogspot.com/2017/10/standar-dan-panduan-audit-sistem_19.html
http://herunugroho.staff.telkomuniversity.ac.id/tugas-membandingkan-standar-audit-si/
http://ifaneffendy.blogspot.co.id/2010/11/panduan-audit-sistem-informasi-di.html

Kamis, 11 Oktober 2018

RESUME SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI ( BAB 4 - BAB 6 )

TUGAS RESUME BAB 4, BAB 5, DAN BAB 6
SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI

 Hasil gambar untuk gunadarma

NAMA : Choirul Kahfi
NPM : 11115478
KELAS : 4KA23
TUGAS : RESUME BAB 4, BAB 5, BAB 6
DOSEN : KURNIAWAN B. PRIANTO, S.Kom., SH, MM
MATA KULIAH : SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
S1 - SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018



Berikut saya lampirkan tugas tersebut dengan link :

https://drive.google.com/open?id=17031Dj80WBI_lbA-Fs3i9Ecy7NDTC4Dr

Kamis, 04 Oktober 2018

RESUME SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI ( BAB 1 - BAB 3 )

TUGAS RESUME BAB 1, BAB 2, DAN BAB 3
SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI

 Hasil gambar untuk gunadarma

NAMA : Choirul Kahfi
NPM : 11115478
KELAS : 4KA23
TUGAS : RESUME BAB 1, BAB 2, BAB 3
DOSEN : KURNIAWAN B. PRIANTO, S.Kom., SH, MM
MATA KULIAH : SISTEM KEAMANAN TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
S1 - SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2018



Berikut saya lampirkan tugas tersebut dengan link :

Sabtu, 09 Desember 2017

Definsi dan Contoh Metode Pencarian Buta & Heuristik

1.          Metode Pencarian Buta (Blind Searching)

            Blind Searching adalah model pencarian buta atau pencarian yang tidak memiliki informasi awal, model pencarian ini memiliki tiga ciri – ciri utama yaitu:
-         Membangkitkan simpul berdasarkan urutan
-         Kalau ada solusi maka solusi akan ditemukan
-         Hanya memiliki informasi tentang node yang telah dibuka (node selanjutnya tidak diketahui).
Jenis-jenis dalam Blind Searching yaitu :

  • ·         Breadth-First Search  (Pencarian Melebar Pertama)

Breadth First Search yaitu model pencarian yang memakai metode melebar. Untuk mencari hasilnya, model BFS ini menggunakan teknik pencarian persoalannya dengan cara membuka node (titik) pada tiap levelnya. Pada metode Breadth-First Search, semua node pada level n akan dikunjungi terlebih dahulu sebelum mengunjungi node-node pada level n+1. Pencarian dimulai dari node akar terus ke level ke-1 dari kiri ke kanan, kemudian berpindah ke level berikutnya demikian pula dari kiri ke kanan sampai ditemukannya solusi
.
Algoritma :
– Buat sebuah antrian, inisialisasi node pertama dengan Root dari tree
– Bila node pertama, jika ≠ GOAL, diganti dengan anak-anaknya dan diletakkan di belakang per level
– Bila node pertama = GOAL, selesai

Keuntungan :
– Tidak akan menemui jalan buntu
– Jika ada satu solusi, maka breadth first search akan menemukannya. Dan jika ada lebih dari satu solusi, maka solusi minimum akan ditemukan.

Kelemahan :
– Membutuhkan memori yang cukup banyak, karena menyimpan semua node dalam satu pohon
– Kemungkinan ditemukan optimal local

Contoh :


Penjelasan Gambar :
1.       Membangkitakan anak dari terminal Senen = Terminal blok M, Terminal Pulo Gadung, Terminal Manggarai
2.       Karena goal state (Terminal Kp. Rambutan) belum tercapai maka kita bangkitkan anak dari terminal senen
Terminal Blok M = Terminal Grogol, Terminal Lebak Bulus            
Terminal Lebak Bulus = Terminal Ciputat, Terminal Kp. Rambutan.            
Terminal Pulo Gadung = Terminal bekasi            
Terminal Manggarai = Terminal Cililitan, Terminal Harmoni
3.       Akhirnya tercapai Goal State (Terminal Kp. Rambutan).


  • ·         Depth-First Search  (Pencarian Mendalam Pertama)

DFS (Depth-first Search) sering disebut juga pencarian mendalam. Sesuai dengan namanya “pencarian mendalam”, DFS tidak mencari solusi per level, namun mencari pada kedalaman sebelah kiri terlebih dahulu, kemudian bila belum ditemuakn “goal”nya dilanjutkan ke sisi sebelah kanan dan seterusnya sampai ditemukan target/goal. Pada Depth First Search, proses pencarian akan dilaksanakan pada semua anaknya sebelum dilakukan pencarian ke node-node yang selevel. Pencarian dimulai dari node akar ke level yang lebih tinggi. Proses ini diulangi terus hingga ditemukannya solusi.

Algoritma :
– Buat sebuah antrian, inisialisasi node pertama dengan Root dari tree
– Bila node pertama, jika ≠ GOAL, node dihapus diganti dengan anak-anaknya dengan urutan LChild
– Bila node pertama = GOAL, selesai

Keuntungan :
– Membutuhkan memori yang relatif kecil, karena hanya node-node pada lintasan yang aktif saja yang disimpan
– Menemukan solusi tanpa harus menguji lebih banyak lagi dalam ruang keadaan

Kelemahan :
– Kemungkinan terjebak pada optimal lokal
– Hanya akan mendapatkan 1 solusi pada setiap pencarian

Contoh:


Pencarian dimulai dari simpul sebelah kiri yaitu ABD karena D tidak memiliki anak maka lanjut ke sebelah kanan yaitu E lalu FG. Anak-anak dari simpul B sudah habis maka lanjut ke simpul C dan di teruskan ke HIJK. K merupakan goal state dari pohon tersebut
Pada prinsipnya, DFS ini menggunakan tumpukan untuk menyimpan seluruh state yang ditemukan atau bisa dikatakan bahwa DFS menggunakan metode LIFO (Last In First Out).

2.      Metode Pencarian Heuristik (Heuristic Search )

Heuristic Search merupakan metode pencarian yang memperhatikan nilai heuristik (nilai perkiraan).
Teknik pencarian heuristik (heuristic searching) merupakan suatu strategi untuk melakukan proses pencarian ruang keadaan (state space) suatu problema secara selektif, yang memandu proses pencarian yang kita lakukan di sepanjang jalur yang memiliki kemungkinan sukses paling besar, dan mengesampingkan usaha yang bodoh dan memboroskan waktu.
Heuristik adalah sebuah teknik yang mengembangkan efisiensi dalam proses pencarian, namun dengan kemungkinan mengorbankan kelengkapan (completeness).
Heuristic Search memperkirakan jarak menuju Goal (yang disebut dengan fungsi heuristik).
Fungsi heuristik ini digunakan untuk mengevaluasi keadaan-keadaan problema individual dan menentukan seberapa jauh hal tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan solusi yang diinginkan.
Jenis-jenis dalam Heuristic Search  yaitu :

  • ·         Generate and Test (membangkitkan dan menguji)

Strategi bangkitkan dan uji (generate and test) merupakan pendekatan yang paling sederhana dari semua pendekatan yang akan dibicarakan.
Pendekatan ini meliputi langkah–langkah sebagai berikut :
11.       Buatlah/bangkitkan sebuah solusi yang memungkinkan. Untuk sebuah problema hal ini dapat berarti pembuatan sebuah titik khusus dalam ruang problema.
22.       Lakukan pengujian untuk melihat apakah solusi yang dibuat benar–benar merupakan sebuah solusi, dengan cara membandingkan titik khusus tersebut dengan goal-nya (solusi).
33.       Jika telah diperoleh sebuah solusi, langkah – langkah tersebut dapat dihentikan. Jika belum, kembalilah ke langkah pertama.

Jika pembangkitan atau pembuatan solusi – solusi yang dimungkinkan dapat dilakukan secara sistematis, maka prosedur ini akan dapat segera menemukan solusinya (bila ada).  Namun, jika ruang problema sangat besar, maka proses ini akan membutuhkan waktu yang lama.
Metode generate and test ini memang kurang efisien untuk masalah yang besar atau kompleks.

Contoh:

 “Travelling Salesman Problem (TSP)” Seorang salesman ingin mengunjungi n kota. Jarak antara tiap-tiap kota sudah diketahui. Kita ingin mengetahui ruter terpendek dimana setaip kota hanya boleh dikkunjungi tepat  1 kal i. Misalkan ada 4 kota dengan jarak antara tiap-tiap kota seperti gambar di bawah ini: 

Penyelesaian dengan Generate and Test


  • ·         Hill Climbing (mendaki bukit)

Hill Climbing (mendaki bukit) merupakan salah satu variasi metode buat dan uji (generate and test) dimana umpan balik yang berasal dari prosedur uji digunakan untuk memutuskan arah gerak dalam ruang pencarian (search).
Dalam prosedur buat dan uji yang murni, respon fungsi uji hanyalah ya atau tidak. Dalam prosedur Hill Climbing, fungsi uji dikombinasikan dengan fungsi heuristik yang menyediakan pengukuran kedekatan suatu keadaan yang diberikan dengan tujuan (goal).

Prosedur Hill Climbing :
11.       Buatlah solusi usulan pertama dengan cara yang sama seperti yang dilakukan dalam prosedur buat dan uji (generate and test). Periksalah apakah solusi usulan itu merupakan sebuah solusi. Jika ya, berhentilah. Jika tidak, kita lanjutkan ke langkah berikutnya.
22.       Dari solusi ini, terapkan sejumlah aturan yang dapat diterapkan untuk membuat sekumpulan solusi usulan yang baru.
33.       Untuk setiap elemen kumpulan solusi tersebut, lakukanlah hal-hal berikut ini :

11.       Kirimkanlah elemen ini ke fungsi uji. Jika elemen ini merupakan sebuah solusi, berhentilah.
22.       Jika tidak, periksalah apakah elemen ini merupakan yang terdekat dengan solusi yang telah diuji sejauh ini. Jika tidak, buanglah.
33.       Ambilah elemen terbaik yang ditemukan di atas dan pakailah sebagai solusi usulan berikutnya. Langkah ini bersesuaian dengan langkah dalam ruang problema dengan arah yang muncul sebagai yang tercepat dalam mencapai tujuan.
44.       Kembalilah ke langkah 2.

Masalah-masalah yang mungkin timbul pada prosedur Hill Climbing :

-          Maksimum lokal adalah suatu keadaan yang lebih baik daripada semua tetangganya namun masih belum lebih baik dari suatu keadaan lain yang jauh letaknya darinya.
-          Daratan  (Plateau) adalah suatu daerah datar dari ruang pencarian (search) dimana semua himpunan keadaan tetangganya memiliki nilai yang sama.
-          Punggung (Ridge) adalah suatu daerah ruang pencarian (search) yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, namun tidak dapat dibalikkan oleh langkah–langkah tunggal ke arah manapun.
Solusinya:
-          Melakukan langkah balik (backtracking) ke simpul yang lebih awal dan mencoba bergerak ke arah yang lain.
-          Melakukan lompatan besar ke suatu arah untuk mencoba bagian ruang pencarian yang baru.
-          Menerapkan dua atau lebih aturan sebelum melakukan uji coba. Ini bersesuaian dengan bergerak ke beberapa arah sekaligus.

Contoh:
Disini ruang keadaan berisi semua kemungkinan lintasan yang mungkin. Operator digunakan untuk menukar posisi kota-kota yang bersebelahan. Apabila ada n kota, dan kita ingin mencari kombinasi l intasan dengan menukar posisi urutan 2 kota, maka kita akan mendapatkan sebanyak: 


atau sebanyak 6 kombinasi (lihat gambar dibawah). Fungsi heuristic yang digunakan adalah panjang lintasan yang terjadi 


Sumber:

Kamis, 23 November 2017

Natural Language Processing ( NLP )


  • Definisi NLP

Natural Language Processing merupakan operasi komputer menggunakan bahasa alami manusia misalnya bahasa inggris yang sering digunakan untuk menerima suatu respons maupun memberikan suatu instruksi.  Natural Language Processing  juga bisa diartikan suatu formulasi dan penelitian terhadap suatu mekanisme perhitungan yang efektif pada suatu  komputer agar bisa berinteraksi atau  berkomunikasi dengan menggunakan bahasa alami. Mekanisme ini melibatkan natural language generation (NLG) dan understanding. Sebuah arsitektur yang memuat tentang salah satu natural language generator maupun Natural Language Understanding (NLU) dapat dikatakan memuat tentang  Natural Language Processing. Apabila user dapat berinteraksi dengan komputer dengan  bahasa alami maka terbukti  arsitektur tersebut mempunyai Natural Language Processing didalamnya. Secara teori kebanyakan arsitektur dapat diterapkan ke dalam suatu  program dengan suatu  cara tertentu agar dapat mendukung Natural Language Processing. Misalnya dengan cara  mengimplementasikan arsitektur yang sudah ada untuk menunjukan apakah arsitektur tersebut  mendukung Natural Language Processing atau tidak. Penggunaan bahasa alami di dunia komputer biasanya digunakan pada sebuah laporan  misalnya prakiraan cuaca, laboratorium medis dan lain-lain.

  • Tahap-tahap NLP

Menurut Rich dan Knight (1991, pp379-380) tahapan Natural Language Processing terdiri dari beberapa level analisis . Level analisis tersebut adalah:

a. Morphological Analysis
Kata-kata secara individu dilakukan analisis berdasarkan komponennya, dan token yang tidak termasuk, seperti tanda baca dipisahkan dari kata-kata yang ada. Analisis ini memperhatikan arti dari setiap komponen yang ada  membentuk suatu kata. Analisis morfologi sangat penting untuk menentukan aturan kata yang ada dalam pada kalimat, termasuk tata bahasa.

b. Syntax Analysis
Urutan-mutan linear dari kata-kata diubah menjadi struktur yang menunjukkan bagaimana satu kata berhubungan dengan kata yang lain.Dimana analisis ini mempelajari aturan untuk menggabungkan kata menjadi frase dan kalimat, serta menggunakan aturan tersebut untuk menguraikan (parse) dan membentuk kalimat. Level analisis ini yang lebih banyak berhasil.

c. Semantic Analysis
Struktur yang diciptakan dari hasil  analisis sintaksis akan diperiksa arti yang sebenarnya. Kalau struktur tersebut tidak memenuhi persyaratan kaidah bahasa, maka kalimat tersebut dapat dianggap anomali semantik
.
d. Discourse Integration
Mungkin saja arti dari suatu kalimat bergantung dari kalimat sebelumnya dan mungkin dapat mempengaruhi kalimat-kalimat selanjutnya.

e. Pragmatics Analysis
Meinterpretasikan lagi apa yang di katakan dimana sebelumnya telah direpresentasikan oleh struktur tersebut guna untuk menentukan apa yang dimaksud sebenarnya.
Batasan-batasan dari kelima fase ini kadang-kadang belum jelas. Fase tersebut kadang dilakukan secara bertahap, tetapi kadang-kadang dilaksanakan sekaligus.

  • Aplikasi NLP
Secara umum, Jenis aplikasi yang bisa dibuat dalam bidang ilmu NLP terbagi dua, yaitu text-based application dan dialogue-based application.
Text-based application adalah segala macam aplikasi yang melakukan proses terhadap teks tertulis seperti misalnya dokumen, e-mail, buku dan sebagainya. Beberapa jenis aplikasi NLP yang berbasis teks :

1. Programs for classifying and retrieving documents by content

Program yang mampu mengklasifikasi dan mengambil isi dari suatu dokumen berdasarkan kontennya. Seperti spam filtering (pemfilteran pesan sampah), language identification (identifikasi bahasa), dan lain-lain.

2. Machine Translation


Program yang mampu mentranslasi kalimat baik berupa teks maupun suara dari satu bahasa alami ke bahasa lainnya. Contoh : Google Translate.



Dialogue-based application idealnya melibatkan bahasa lisan atau pengenalan suara, akan tetapi bisa juga memasukan interaksi dialog dengan mengetikkan teks pertanyaan melalui keyboard. Contoh :

1. Intelligent personal assistant

Perangkat lunak yang mampu melakukan tugas-tugas dan jasa berdasarkan inputan dari pengguna, lokasi, dan memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari berbagai sumber online (seperti cuaca, keadaan lalu lintas, berita, saham, dll). Contohnya adalah Siri pada produk-produk Apple dan S-Voice pada produk-produk seluler Samsung.


2. Chatbot

Chatbot adalah program komputer yang didesain untuk mensimulasikan sebuah percakapan cerdas dengan satu atau lebih pengguna manusia melalui inputan suara atau teks, utamanya digunakan untuk percakapan kecil. Contoh : Cleverbot, SimSimi, dan begobet.


Sumber : 

INTERNATIONAL JOURNAL OF TECHNOLOGY ENHANCEMENTS AND EMERGING ENGINEERING RESEARCH, VOL 1, ISSUE 4 131 ISSN 2347-4289